ILLUSI NEWS

Media Online yang lebih mengedepankan berita yang akurat dan terpercaya!!!

BPN CIANJUR MENOLAK PERSYARATAN LEGALISIR

Dikeluhkan oleh Warga Cianjur

OJOL

Kehadirannya Membantu Warga Cianjur

HIKMAH IMLEK

Pesanan Lampion Banyuwangi Meningkat

SPACE IKLAN

Area Foto Slider untuk media promosi!!!

Senin, 11 Maret 2019

Tantangan Penulis Perempuan Masa Kini

Jakarta – Penulis perempuan Tanah Air semakin banyak bermunculan dan dikenal di tingkat internasional. Menjadi seorang penulis perempuan pun tak sekadar menulis persoalan gender maupun sehari-hari, namun mereka menghadapi tantangan lebih berat. 
“Ketika karya pertama saya keluar, tanggapan masyarakat terhadap penulis perempuan bisa sekeras itu. 20 tahun lalu berbeda dengan pembacaan sekarang. Ada baik atau tidak baiknya segala sesuatu itu yang mereka bicarakan adalah sesuatu di luar karya tersebut,” ujar Djenar Maesa Ayu ditemui di Kinokuniya Plaza Senayan, Kamis (17/1/2019). 
Sebagian besar yang mengkritik karya Djenar di awal dekade 2000-an adalah mereka yang tidak membaca. Serta hanya mengomentari dari persoalan gaya berpakaian, gaya hidup, dan lain-lain. 
“Tapi saya merasa semakin orang membicarakannya, buku saya semakin laku dan ketika orang ingin membaca karya saya, saya jadi lebih bisa fight. Di buku-buku saya banyak yang mendebat opini masyarakat, itu jadi amunisi saya,” tuturnya lagi.
Nama Djenar Maesa Ayu yang muncul di dekade 2000-an dikenal sebagai pendobrak penulis perempuan Tanah Air. Keberaniannya menulis tema feminisme dianggap sebagai kelanjutan dan kebangkitan dari penulis perempuan. 
Ratih Kumala yang sudah menerbitkan 5 novel dan 2 buku kumpulan cerpen mengatakan tantangan bagi penulis perempuan masa kini bukanlah isu maupun tema yang dituliskan. Namun ada persoalan lainnya. 
“Semakin ke sini, penulis perempuan tuh dihadapkan dengan penulis yang berada di era milenial. Penulis laki-laki juga mengalami hal itu, itu menjadi tantangan yang berbeda,” kata penulis ‘Kronik Betawi’ tersebut.
Ketika Gramedia Pustaka Utama (GPU) maupun Grasindo mau menerbitkan karyanya, ia pun berterima kasih. Di masa sekarang, banyak penulis yang mengalami kemudahan untuk merilis karya, misalnya saja di platform Watpadd, Stellar, dan lain-lain. 
“Sekarang tuh bukan tentang penulis perempuan saja tapi penulis di era digital,” pungkasnya.  

(tia/dal)
Share:

Olah Sabut Kelapa, Koperasi di Pangandaran Omzet Miliaran

Pangandaran – Sebuah koperasi di Pangandaran mencatatkan kinerja bisnis yang membanggakan. Mengolah sabut kelapa untuk pasar ekspor, koperasi ini mencatatkan omzet miliaran rupiah setiap bulan. 
Koperasi Produsen Mitra Kelapa (KPMK), nama diri lembaga tersebut, sejak 2014 dirintis 11 pemuda di Desa Cintrakarya, Kecamatan Parigi, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat. Tak butuh waktu lama, usaha kolektif ini berkembang menjadi perusahaan yang mempekerjakan ratusan orang.
“Omzet kita terakhir Rp 1,5 miliar per bulan. Anggota koperasi 42 orang. Pegawai di unit usaha 120 orang,” ujar Yohan Wijaya, ketua KPMK, dijumpai di pabrik olah sabut kelapa, Senin (14/1/2019).
Yohan menjelaskan KPMK saat ini memiliki empat produk utama dari kelapa, yakni tepung, arang, serat dan cocopeat. Tepung dan arang, dia menjelaskan, diperuntukkan bagi pasar Nasional, sementara serat dan cocopeat, Yohan menambahkan, dikirim ke luar negeri.
“Serat atau fiber ini untuk jok mobil, sofa, kasur, tali, ini dikirim ke Tiongkok. Kalau cocopeat untuk media tanam, kita kirim ke Jepang,” ujar pria kelahiran 1982 ini.
Pencapaian bisnis KPMK ini mengundang apresiasi banyak pihak. Terakhir, melalui fasilitasi Kementerian Koperasi dan UMKM, KPMK menerima hibah lebih kurang Rp 500 juta dari lembaga pertanian asal Belanda, Agriterra.
Hibah tersebut, Yohan mengungkapkan, hanya untuk biaya penyusunan rencana bisnis (business plan) untuk pengembangan usaha KPMK.
“Kami sedang merancang pabrik terpadu, output-nya tujuh jenis produk turunan dari kelapa. Teknisnya, koperasi nanti mendirikan PT. Investasinya di kisaran Rp 200 miliar,” ujar lulusan Teknik Kimia Institut Teknologi Nasional (Itenas) Bandung ini. 
Bisnis kelapa, menurut Yohan, berpotensi besar di Kabupaten Pangandaran. Ia menggambarkan, saat ini luas perkebunan kelapa di Pangandaran mencapai 33.400 hektare. Dari luas tersebut, ia merinci, hanya 21 ribu hektare yang memproduksi kelapa, sedangkan sisanya disadap atau dideres untuk bahan gula.
>“Kapastitas produksi perkebunan kita 800 ribu butir per hari. Kita saat ini baru mengolah 6 ribu butir per hari, sisanya sebagian besar dijual ke kota,” tutur Yohan.
Berkaca dari tujuan utama pendirian usaha tersebut, Yohan merasa pencapaian yang sudah diraih KPMK sudah melebihi ekspektasi. “Dulu cita-cita kami tuh cuma sederhana, hanya ingin harga jual kelapa stabil, untuk membantu orangtua-orangtua kami,” kata Yohan.
Kini, dia menuturkan, sangat banyak pemilik kebun kelapa yang ingin bergabung dengan koperasi yang mereka rintis karena KPMK membeli kelapa dengan harga yang jauh lebih mahal. “Kalau di pasaran sekarang harganya Rp 1.000, kita beli Rp 1.600. Kan kita enggak ada limbah, jadi bisa lebih mahal,” ujar Yohan. (dna/dna)
Share:

Masuk RI, Alipay dan WeChat Pay Wajib Gandeng Bank Lokal

Jakarta – Bank Indonesia (BI) menyebut tidak menutup kemungkinan penyelenggara jasa sistem pembayaran (PJSP) asing untuk beroperasi di Indonesia. Asalkan PJSP tersebut bekerja sama dengan PJSP domestik. 
Deputi Gubernur BI Sugeng mengungkapkan, PJSP asing seperti WeChat Pay dan Alipay bisa bekerja sama dengan PJSP domestik berupa Bank Umum Kegiatan Usaha (BUKU) IV. 
“Jadi PJSP asing nanti penyelesaian transaksinya lewat bank dan harus lewat bank BUKU IV, tidak langsung lewat asing,” kata Sugeng dalam konferensi pers di Gedung BI, Jakarta, kamis (20/12/2018).
Dia menyampaikan, dengan kerja sama tersebut maka akan memberikan dampak positif ke perekonomian Indonesia. Karena transaksi dilakukan sepenuhnya di Indonesia, baru biaya-biaya lain didistribusikan ke negara asal PJSP tersebut. 
Sugeng menambahkan, saat ini ada sejumlah bank yang sudah menjajaki bahkan melakukan pilot project dengan PJSP asing untuk kerja sama ini. “Misalnya BCA saat ini sedang menjajaki kerja sama dengan Alipay, BRI melakukan MoU awal juga dengan Alipay,” kata dia.
Kemudian CIMB Niaga telah menandatangani kerja sama dengan WeChat Pay, kemudian BNI juga sudah melakukan piloting project dengan WeChat Pay. “Kalau semuanya sudah settle maka harus dicek bisnis prosesnya, persetujuan seluruhnya ada di Bank Indonesia,” imbuh dia.
Sebelumnya dalam aturan tersebut setiap penyelenggara jasa sistem pembayaran (PJSP) yang beroperasi di dalam negeri, harus masuk ke Gerbang Pembayaran Nasional (GPN). Kemudian BI juga meminta PJSP asing ini untuk bekerja sama dengan bank umum kegiatan usaha (BUKU) IV.
Direktur Eksekutif Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran (DKSP) BI, setiap PJSP luar negeri harus memastikan setiap transaksi menggunakan denominasi rupiah. 
“Konversinya itu nanti kami akan lakukan. Itu harus pakai rupiah, karena ‘merchant’ di Indonesia, nanti ada komisi yang harus dibagi dengan domestik,” kata Onny.
Hal ini untuk menanggapi dua PJSP lintas batas atau cross border yang menjual jasa sistem pembayaran kepada turis asing di Bali. “Yang belum kerja sama, itu sudah kami stop ‘merchant’-nya, sudah lapor kepada kami, sudah kami tegaskan,” ujarnya. 
Share:

MEGANTARA ADV

IllusiNews chat room