ILLUSI NEWS

Media Online yang lebih mengedepankan berita yang akurat dan terpercaya!!!

BPN CIANJUR MENOLAK PERSYARATAN LEGALISIR

Dikeluhkan oleh Warga Cianjur

OJOL

Kehadirannya Membantu Warga Cianjur

HIKMAH IMLEK

Pesanan Lampion Banyuwangi Meningkat

SPACE IKLAN

Area Foto Slider untuk media promosi!!!

Tampilkan postingan dengan label hiburan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label hiburan. Tampilkan semua postingan

Senin, 06 Mei 2019

Sejumlah Fakta Tentang Bazaar Ramadhan di Cianjur Kota (Bagian Ketiga)

Betapa Memalukan Mempunyai Pemimpin yang Tak Menunjukkan Batang Hidungnya 
CIANJUR-ILLUSI NEWS. Awal bulan ramadhan (6/5/2019) semestinya dihiasi dengan pemandangan yang menyejukkan hati sehingga indah dinikmati. Namun apa mau dikata ternyata faktanya malah sebaliknya dimana  sikap yang tidak berwibawa ditunjukkan oleh instansi Satuan Pamong Praja dan Pemadam Kebakaran (Satpol PP) Cianjur. Sebagian tenda yang sudah terpasang untuk kegiatan Bazaar Ramadhan ternyata dibongkar paksa instansi tersebut tanpa pemberitahuan dahulu terhadap panitia penyelenggara.
Saat dikonfirmasi, Kasatpol PP Cianjur Muzani Saleh membenarkan jika pihaknya dengan terpaksa melakukan pembongkaran terhadap tenda yang sudah terpasang panitia bazaar ramadhan. Hal tersebut karena adanya instruksi dari pimpinan (PLT Bupati Cianjur,red) namun setelah beberapa saat kemudian kini sudah diizinkan kembali untuk beberapa titik lokasi.
"Tadi subuh saya ketemu pimpinan sehingga kemudian pagi harinya kita lakukan pembongkaran tapi kini sudah diizinkan kembali setelah saya berkomunikasi. Detail untuk denahnya juga saya laporkan kepada Kepala Badan Kesbangpol Cianjur makanya saya kesini," katanya saat ditemui di Kantor Kesbangpol Cianjur.
Masih di tempat yang sama, Kepala Badan Kesbangpol Cianjur, Dadan Ginanjar mengaku jika dirinya ditugaskan oleh pimpinan (PLT Bupati Cianjur) setelah sebelumnya bertemu di Masjid Agung selepas shalat subuh. Diapun tak membolehkan pihak panitia untuk menemui pimpinannya sembari tidak menyebutkan keberadaan PLT Bupati tersebut. Menurut mantan Camat Cugenang itu jika pimpinannya juga menyarankan agar panitia bazaar berkomunikasi dengan pihak tertentu. 
"Saya sudah datang dan berbicara dengan mereka tapi tetap tidak mau berdialog karena dianggap tidak perlu. Jadi saya sarankan silahkan kalau dari panitia untuk menemui mereka karena itu diperlukan sebagai pertimbangan bagi pemerintah," ucapnya tanpa merinci secara detail alasan penolakan dialog dari pihak tertentu tadi.
Sontak jawaban kedua Aparatur Sipil Negara (ASN) tersebut menimbulkan sejumlah pertanyaan lantaran terkesan mengabaikan komitmen yang sudah diputuskan dalam rapat terbuka yang dilakukan secara formal kelembagaan. Disisi lain juga kerap mengatasnamakan pimpinannya yakni PLT Bupati namun begitu dikonfirmasi selalu menghindar dan tak sudi ditemui.
"Kita heran aja dengan sikap PLT Bupati sekarang ini, disatu sisi beliau yang berinisiatif agar kita melakukan audiensi tapi tak pernah mau hadir bahkan sulit ditemui. Bagaimana tidak aneh, sudah lima kali pertemuan tapi tak mau menunjukkan batang hidungnya. Tapi keputusan yang diambil malah dianulirnya sendiri, jelas inikan ada yang tidak beres dengan tata kelola pemerintahan semacam ini," ujar salahseorang panitia penyelenggara Bazaar Ramadhan, Denda Sumirat.
Dirinya menambahkan, pihaknya sudah memenuhi undangan pertemuan yang difasilitasi Kesbangpol Cianjur (2/5/2019) guna membahas bazaar ramadhan. Namun sejumlah pihak tidak menghadiri padahal sudah dinyatakan urgensinya terhadap pembahasan agenda pertemuan tersebut.
"Jelas tidak bisa seenaknya seperti itu sikap pemerintah takluk oleh kepentingan sekelompok orang yang memaksakan kehendaknya. Harusnya hadir untuk beradu argumen bukan malah menunjukkan sikap anti terhadap dialog dengan tidak menghadiri undangan resmi," ungkapnya.
Hal senada juga disampaikan oleh Ketua Bravo Komando, Bambang Adi Sudarso yang mengaku heran dengan sikap dan kepemimpinan PLT Bupati Cianjur saat ini. Menurutnya sangatlah aneh bilamana pemimpin menghindari konflik padahal hal tersebut terjadi akibat ketidakberesan manajemen pemerintahan itu sendiri.
"Kalau kita ini siap berdialog dengan pemerintah tapi kalau harus menemui lembaga tertentu yang dipimpin bukan orang pemerintah itu jelas tidak mungkin kami lakukan. Kita ini berpedoman kepada keputusan pemerintah bukannya mematuhi pemaksaan kehendak yang dilakukan sekelompok orang," teganya. 
Ia menambahkan bahwa putusan resmi tentang pelaksanaan bazaar itu sudah dibuat bahkan disaksikan banyak orang dalam sebuah pertemuan. Sangatlah tidak beralasan jika putusan tadi dianulir oleh pihak tertentu tanpa melalui prosedur yang sejatinya resmi.
"Hal ini menyangkut kewibawaan Pemerintah Cianjur, begitu posisi bazaar sudah diputuskan resmi (12/4/2019) maka kami berbenah untuk mempersiakpkan diri. Kami bukan sedang memaksakan kehendak tapi menjaga martabat pemerintah bahwa sesuatu yang diputuskan secara resmi harus dipatuhi oleh semua pihak," pungkasnya. (RKR)






Share:

Senin, 11 Maret 2019

Tantangan Penulis Perempuan Masa Kini

Jakarta – Penulis perempuan Tanah Air semakin banyak bermunculan dan dikenal di tingkat internasional. Menjadi seorang penulis perempuan pun tak sekadar menulis persoalan gender maupun sehari-hari, namun mereka menghadapi tantangan lebih berat. 
“Ketika karya pertama saya keluar, tanggapan masyarakat terhadap penulis perempuan bisa sekeras itu. 20 tahun lalu berbeda dengan pembacaan sekarang. Ada baik atau tidak baiknya segala sesuatu itu yang mereka bicarakan adalah sesuatu di luar karya tersebut,” ujar Djenar Maesa Ayu ditemui di Kinokuniya Plaza Senayan, Kamis (17/1/2019). 
Sebagian besar yang mengkritik karya Djenar di awal dekade 2000-an adalah mereka yang tidak membaca. Serta hanya mengomentari dari persoalan gaya berpakaian, gaya hidup, dan lain-lain. 
“Tapi saya merasa semakin orang membicarakannya, buku saya semakin laku dan ketika orang ingin membaca karya saya, saya jadi lebih bisa fight. Di buku-buku saya banyak yang mendebat opini masyarakat, itu jadi amunisi saya,” tuturnya lagi.
Nama Djenar Maesa Ayu yang muncul di dekade 2000-an dikenal sebagai pendobrak penulis perempuan Tanah Air. Keberaniannya menulis tema feminisme dianggap sebagai kelanjutan dan kebangkitan dari penulis perempuan. 
Ratih Kumala yang sudah menerbitkan 5 novel dan 2 buku kumpulan cerpen mengatakan tantangan bagi penulis perempuan masa kini bukanlah isu maupun tema yang dituliskan. Namun ada persoalan lainnya. 
“Semakin ke sini, penulis perempuan tuh dihadapkan dengan penulis yang berada di era milenial. Penulis laki-laki juga mengalami hal itu, itu menjadi tantangan yang berbeda,” kata penulis ‘Kronik Betawi’ tersebut.
Ketika Gramedia Pustaka Utama (GPU) maupun Grasindo mau menerbitkan karyanya, ia pun berterima kasih. Di masa sekarang, banyak penulis yang mengalami kemudahan untuk merilis karya, misalnya saja di platform Watpadd, Stellar, dan lain-lain. 
“Sekarang tuh bukan tentang penulis perempuan saja tapi penulis di era digital,” pungkasnya.  

(tia/dal)
Share:

MEGANTARA ADV

IllusiNews chat room